Onlinepreneur

Posted on at


Jagat online Indonesia kian melaju menderu-deru. Tahun ini user internet di tanah air telah tembus 80 juta anak manusia – sebuah angka yang masif dan menghadirkan samudra peluang yang luas membentang.

Penetrasi Wifi, ekspansi broadband dan ledakan pengguna smartphone adalah amunisi yang membuat jagat maya nusantara terus berkibar-kibar.

Dan dalam derap kibaran itu, menyeruak dua kisah mengguncang tentang dua anak muda onlinepreneurs Indonesia. Dua kisah mencengangkan yang akan coba kita ulik dengan renyah.

Silakan diminum dulu teh hangatnya, sebelum kita menjelajah dua kisah dramatis ini.

Kisah yang pertama adalah tentang anak muda bernama Natali Ardianto – sebuah nama yang cukup dikenal dalam jagat digital start up tanah air. Ia adalah sarjana yang kini berusia 33 tahun, dan sebelumnya menjadi karyawan bagian IT di berbagai perusahaan.

Setelah beberapa tahun menjalani hidup sebagai karyawan, ia memutuskan untuk merintis bisnis sendiri di online – sebuah dunia yang ia cintai. Ia bilang, kalau jadi karyawan mungkin kenaikan pendapatan tiap tahun maksimal 15%, sementara kalau usaha sendiri kenaikannya bisa sampai 100%.

Begitulah di usia 25an tahun Ardianto memulai petualangan bisnisnya dengan mendirikan Urbanesia – sebuah online directory yang memuat daftar tempat kuliner, kafe, dan distro fashion di Jakarta. Meski sempat nge-hits, Urbanesia gagal tumbuh seperti yang ia harapkan.

Meski kecewa dengan kegagalan Urbanesia, Ardianto tidak menyerah. Ia lalu mencoba merintis projek keduanya dengan membangun Golfnesia – sebuah online reservation tempat golf di Jakarta dan Bandung.

Golfnesia, sebuah nama yang lumayan keren. Namun ternyata layanan online ini juga gagal total. Kenapa? Karena ternyata sebagian besar lapangan golf di tanah air bersifat tertutup, dan tidak membuka diri terhadapa rerservasi eksternal, apalagi bersifat online.

Ardianto terpukul. Dua kali mencoba merintis bisnis online, dua kali pula gagal. Ya, gagal bisnis dua kali mungkin lebih pedih dibanding diputus pacar. *Sakitnya tuh disini*

Dua kali kegagalan itu membuat Ardianto berhemat. Uang tabungannya makin menipis, dan ia mesti makan siang dengan lauk yang bersahaja demi mengirit pengeluaran.

Dengan energi dan sisa uang tabungan yang tersisa, ia lalu mengajak dua temannya untuk melakukan petualangan bisnis yang ketiga.

Begitulah, ia bersama kedua temannya mengurung di kamar kerja selama 100 hari, demi melakukan coding, membuat aplikasi online ticket reservation. Tiap malam, mereka bergadang sambil ditemani kopi dan wedang bajigur. Demi passion mereka untuk membangun bisnis online yang berkibar.

Tepat di bulan November 2011, setelah 100 hari 100 malam berjibaku, Ardianto meluncurkan layanan online baru mereka yang diberi nama sederhana tapi amat powerful – www.tiket.com

Ardianto deg-degan dengan peluncuran projek bisnisnya yang ketiga ini. Ia dibayangi ketakukan akan kembali gagal seperti dua usaha sebelumnya. Ia hanya bisa berdoa setelah segenap kerja keras dicurahkan, dan bergelas-gelas kopi diteguk.

Rupanya gema doa Ardianto mendapat ijabah dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Hanya dalam waktu 3 tahun, omzet www.tiket.com menembus angka Rp 1 TRILIUN. Sebuah pencapaian yang amat mencengangkan.

Tak pernah ada dalam sejarah bisnis di tanah air – yang online ataupun offline sekalipun – sebuah bisnis yang bisa menembus omzet segeda gaban (1 TRILIUN) hanya dalam waktu 3 tahun. Never before in history.

Now that’s the power of internet economy. The miracle of digitalnomics.

Kini tiket.com bisa melakukan menjual 7000 lembar tiket kali TIAP HARI, dengan nilai rata-rata Rp 400 ribu per transaksi. 70% penjualan didapat dari tiket pesawat, dan sisanya adalah tiket konser, kereta api dan tiket lainnya. Pada tahun 2013, pertumbuhan bisnis mereka tembus 3000%. Incredible.

Sambil menyeruput secangkir cappucino, Ardianto mengenang masa saat ia harus berhemat dan berjibaku 100 hari menyiapkan bisnis ketiganya ini.

Mimpi dan passion-nya seperti mendapatkan validasi yang amat menggetarkan.

Atas pencapaian yang mengguncang itu, secara informal saya menyebut Ardianto sebagai “Mark Zukberberg of Indonesia” – the wonder boy of online economy.

KISAH YANG KEDUA – sama-sama mengguncangnya. Kisah ini berpusat pada sosok bernama William Tanuwijaya, anak muda lulusan Binus yang juga baru berusia 33 tahun (usia yang sama seperti Natali Ardianto).

Sama seperti Ardianto, dulunya Tanuwijaya adalah karyawan bagian IT dan Business Development dengan gaji alakadarnya. Visinya yang kuat tentang masa depan bisnis online membuat ia resign, untuk full time membangun sebuah online marketplace.

Begitulah tepat di tanggal 17 Agustus 2009, bertepatan dengan hari Proklamasi, Tanuwajaya meluncurkan TOKOPEDIA, sebuah online marketplace yang mempertemukan online sellers dan buyers.

Pelan-pelan, Tanuwijaya membesarkan bisnis online-nya itu – setapak demi setapak, tanpa kenal lelah. Sebab ia punya ambisi dan passion yang kuat untuk meraih sukses dengan Tokopedia-nya.

Kini, Tokopedia muncul menjadi online marketplace terdepan di tanah air, dengan jumlah pengunjung hingga 10 juta per bulan. Tokopedia juga sukses memproses 2 juta transaksi penjualan per bulan.

Lalu lima hari lalu, Tanuwijaya merilis kabar yang mengguncang : Tokopedia berhasil memperoleh pendanaan dari investor baru senilai Rp 1,2 TRILIUN. Another big WOW.

Yang juga tak kalah menggetarkan : salah satu investor (venture capital) yang memberikan pendanaan itu adalah Sequoia Capital – sebuah venture capital paling legendaris di Silicon Vally. Lembaga inilah yang melahirkan Apple, Google, Youtube hingga Instagram.

Dan sekarang, lembaga yang melahirkan raksasa-raksasa digital dunia itu mendanai Tokopedia.

Dalam proses pendanaan itu, Tokopedia juga mendapatkan valuasi senilai Rp 400 milyar (estimasi). Artinya kalau William Tanwijaya menjual seluruh sahamnya di Tokopedia, ia akan mendapatkan uang cash 400 MILYAR. Incredible.

Namun, Tanuwijaya bilang ia ingin membangun Tokopedia hingga 500 tahun ke depan. Ia ingin meninggalkan legacy yang layak dikenang.

Dan mungkin dengan itu ia layak disebut sebagai “Jack Ma of Indonesia” (Jack Ma adalah mantan guru SMA, pendiri Alibaba.com, online marketplace terbesar di China dan sekarang menjadi orang terkaya di China).

Natali Ardianto dan William Tanuwijaya sama-sama berusia 33 tahun, dan sama-sama memulai bisnisnya sendiri di usia muda. Kisah mereka adalah cerita tentang visi bisnis yang kuat, kompetensi dan juga ketegaran mewujudkan mimpi.

Kisah mereka adalah juga cerita tentang mindset keberlimpahan (abundance mindset).

Dulu, saat saya menulis artikel berjudul : Kenapa Saat Usia 55 tahun, Anda harus Punya Tabungan 3 Milyar; banyak pembaca mencak-mencak, dan bilang artikel itu ngawur, tidak masuk akal, dan blah-blah lainnya.

Saya merasa, pembaca yang berkomentar seperti itu, dalam alam bawah sadarnya tersimpan mentalitas serba-kekurangan (bukan mentalitas keberlimpahan). Atau seperti yang pernah diucapkan salah satu guru manajemen saya, “mentalitas proletar”.

Kisah Ardianto dan Tanuwijaya dengan telak menunjukkan, bahkan pada usia yang masih amat muda, kita bisa meraih financial freedom dalam jumlah yang amat fenomenal. Sepanjang kita memang punya KOMPETENSI dan mentalitas KEBERLIMPAHAN.

Dan seperti yang ada dalam kisah diatas, Ardianto dan Tanuwijaya meraih profit yang fenomenal bukan karena anak orang kaya atau karena korupsi. Mereka murni meraihnya karena kerja keras, doa, visi bisnis yang kuat, serta keyakinan bahwa mereka bisa mewujudkan impian mereka.

What you believe is what you get.

Kisah mencengangkan dari dua onlinepreneurs ini mengajak kita merenung kembali dengan cermat apa makna slogan pendek itu.

Yes, what you believe is what you get.



160